Filosofi Kaki Seekor Sapi

Sebelumnya saya berterima kasih kepada guru bahasa inggris sewaktu sekolah menengah kejuruan, Bpk. Agus Supriyadi yang sedikit banyak sudah membentuk karakter berpikir kami sewaktu itu. Pada saat itu kami ber-delapan dipilih berdasarkan kesukarelaan untuk ikut dalam lomba debat bahasa inggris antar sekolah di Kota Malang. Seingat saya, bahasa inggris merupakan pelajaran ketiga setelah matematika dan fisika yang paling tidak disukai oleh teman sekelas. Tapi akhirnya takdir membawa kita ber-delapan untuk menjadi ‘minimal’ orang yang bisa berpikir out of the box walaupun sering kesasar keluar topik wkwkwkw…

Saat itu lomba debat bahasa inggris menjadi salah satu favorit sekolah-sekolah untuk unjuk gigi dalam menunjukkan eksistensinya. Seingat saya (kalau tidak lupa 😀 ) menggunakan aturan Australasia dimana ada 3 pembicara (speaker) di tiap sisi, yaitu sisi positif dan negatif. Sisi positif adalah sisi yang mendukung topik yang menjadi bahan perdebatan, sedangkan sisi negatif, bagaimanapun caranya harus menolak/tidak setuju dengan topik tersebut. Tentu topik yang diperdebatkan akan menguntungkan salah satu pihak baik itu positif atau negatif, namun bukan tidak mungkin pihak yang tidak diuntungkan-lah yang akan memenangkan debat.

Salah satu contoh topik yang memaksa kita ber-delapan (6 orang tim inti dan 2 orang cadangan) melewati ambang batas kemampuan dalam berpikir saat itu adalah legalisasi aborsi. Dimanapun (kecuali negara yg sudah melegalkannya) aborsi adalah suatu kegiatan yang dilarang, karena bisa dikatakan menghilangkan nyawa. Saat itu juga masih belum ada media sosial seperti saat ini sehingga untuk mencari informasi mengenai topik terkait agaknya sedikit sulit.

Di sini, pihak yang diuntungkan dengan topik tersebut adalah pihak negatif yang menolak pendapat tersebut. Sedangkan pihak positif harus mendukung, memperjuangkan dan memastikan bahwa pihaknya yang memenangkan debat. Mulai dari mencari referensi dari segi kesehatan, ekonomi, politik dan segi sembilan sepuluh sebelas dan seterusnya. Kebetulan saya berada di pihak positif yang mendukung pendapat tersebut. Entah apa karena lelah atau kurang tidur (karena hari itu kami sudah melalui 2 sesi debat dan memenangkannya, sedangkan untuk semifinal akan di adakan esok hari nya) akhirnya saya pun menyerah untuk bisa mencari materi/referensi agar bisa mempertahankan pendapat ‘legalisasi aborsi’ tadi.

Akhirnya beliau berkata dengan nada persuasive kepada kami,

“Kalian tahu ada berapa kaki sapi?”

“Empat pak.” Jawabku spontan, karena sudah lelah dan buntu

“Delapan, Bukan hanya empat.”

Bukan saya saja yang bingung dengan pendapat beliau tapi teman kami juga sempet protes kalau hal itu menyalahi kodrat sapi sebagai hewan berkaki empat.

Tanpa langsung basa-basi kami menerima kuliah singkat yang selalu merubah pola pikir dalam menghadapi suatu masalah dengan cepat. Ketika suatu permasalahan rumit bin kompleks muncul di hadapan kita, tidak akan bisa mencari solusi berdasarkan satu sudut pandang saja. Gunakan kebebasan dalam berpikir dan berimajinasi dalam berangan-angan untuk melihat celah dimana kita bisa manfaatkan.

Jadi singkatnya, kaki sapi itu ada empat karena kita sudah diajarkan dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa kaki sapi jika dihitung dengan jari ada empat. Tapi bila dilihat dari depan 2 kaki, samping kanan 2 kaki, belakang 2 kaki, dan samping kiri 2 kaki maka jumlahnya akan ada 8 kaki.

Sederhana tapi benar-benar membuat saya bangga, mempunyai guru seperti beliau

-silumansupra

Arema vs ISL All Star (Skor Akhir: 4-5)

Arema Juara

Goooooooollllll!!!!!!!!

Begitu sorak sorai penghuni toko BJSP Computer dimana aku tinggal ketika Dendi Santoso menyamakan kedudukan menjadi 4-4. Teriakan super keras mungkin terdengar sampai seberang jalan Galunggung, karena memang euforia dan rasa bangga menjadi satu karena AREMA INDONESIA adalah klub kebanggaan Kota Malang, Kota kelahiranku.

Awal Pertandingan

Kick-off dimulai kira-kira pukul 7 malam, saya tidak tahu pastinya, karena memang sedang berada di kamar sebelah. Setelah penyerahan Trofi Juara oleh Bpk. Andi Malarangeng dan beberapa komentar dari para komentator, akhirnya wasit meniup peluit tanda pertandingan dimulai.

Jalannya Pertandingan

Arema terus menyerang dengan memeragakan total footbal. Permainan cepat, umpan kaki ke kaki menjadikan pertandingan ini enak ditonton. Sedangkan ISL All Star pada awal pertandingan kurang begitu kompak dikarenakan mereka belum beradaptasi satu sama lain.

berikut ini kutipan dari detiksport.com

Tiga pemain mencetak dua gol di pertandingan ini, yakni Park Jung Hwan dan Aldo Barreto dari All Star, serta Roman Chmelo dari tuan rumah.
Park yang bermain untuk PSM Makassar, membuka skor saat babak pertama berusia sembilan menit. Barreto, yang di musim ini tampil sebagai top skorer ISL, menggandakan keunggulan tim arahan Jacksen F Tiago melalui golnya di menit 13.
Arema mulai merespons melalui gol buatan Chmelo di menit 22, disusul kemudian oleh striker andalannya asal Singapura, Noh Alam Shah, hanya selang dua menit dari gol pertama rekannya.
Park membuat All Star memimpin lagi lewat gol keduanya di menit 38, setelah tendangannya tak bisa dihentikan kiper terbaik ISL musim ini, Mega Kurnia. Skor 3-2 bertahan sampai turun minum.
Pertandingan menarik dan menghibur berlanjut di babak kedua. Belum lama restart, Barreto sudah membuat sebuah gawang bergetar lagi. Penyerang Bontang FC itu mendulang gol keduanya untuk All Star, sekaligus membuat Arema tertinggal 2-4.
Didukung oleh puluhan ribu suporter fanatiknya, Arema tidak putus asa untuk memberi perlawanan yang lebih baik. Upaya itu berhasil ketika Chemlo dan pemain pengganti Dendi Santoso berturut-turut mencetak gol di menit 57 dan 64 untuk membuat skor imbang 4-4.
Akan tetapi Arema tetap harus menyudahi pertandingan sebagai tim yang kalah. Adalah bomber Persib Bandung Cristian ‘El Loco’ Gonzalez yang merobek jala Mega Kurnia untuk kali kelima di menit 71, dan gol itu merupakan yang terakhir di partai ini. All Star menang 5-4.

Semangat Aremania!!!

Kalah, Legowo, Bangga, Semangat!!!

Meskipun kalah, namun rasa bangga ini mengalahkan segalanya. Bagaimana tidak, melawan tim sekelas ISL All Star, Arema Indonesia mampu menyerang, menyamakan kedudukan walaupun kalah satu bola.

Namun yang perlu diingat adalah semangat juang para pemain Arema, suporter Arema Indonesia, Aremania dan Aremanita baik di dalam stadion maupun di luar stadion Kanjuruhan Malang.

Komentator ‘Ngguateli’

Ada beberapa hal menarik seputar pertandingan Arema vs ISL All Star yang baru saja ditayangkan di ANTV. Beberapa kali komentator, menurut saya terlalu lebay dan ngguateli ketika mengomentari pertandingan.

Seperti ketika Aldo Barreto mencetak gol pertama, salah seorang komentator mengatakan bahwa gol itu merupakan ‘Mukjizat’. Saya rasa tidak masalah dengan kata-kata itu, namun terlalu berlebihan.

Kedua, noise atau gumanan-gumaman para komentator seringkali terdengar karena reaksi spontan ketika melihat aksi-aksi para pemain.

Tapi saya bisa memakluminya karena permainan yang disuguhkan benar-benar sangat menarik dan penuh tawa. Mungkin inilah pertandingan terbaik yang pernah dilakoni oleh Arema Indonesia, di Indonesia, melawan para pemain terbaik Indonesia. Kami pantas Juara!!!