Jaman Instan, Tindakan dan Akibatnya Ikut Instan, Efeknya Jangka Panjang

10410816_1044424035569116_4298140861742216787_n

 

Gambar di atas adalah kesimpulan saya apa yang sedang terjadi di negara kita, Indonesia Tercinta. Banyak orang bepikir secara kritis dan lugas tanpa basa-basi. Tidak sedikitpun langsung menjurus kepada pendapat keras bahkan hampir menyentuh (atau bahkan sudah masuk ke dalam) lingkup sara dengan menyinggung aspek agama, suku, ras dan hal lain yang pasti akan menimbulkan ‘tensi‘ apabila diperdebatkan.

Kebenaran itu hanya bisa dipandang dari berbagai sudut, bukan hanya satu sudut pandang saja apalagi hanya berpatokan pada alasan yang subjektif dan atau kepentingan pribadi/golongan.

Hari-hari kita sekarang sudah pasti didampingi oleh yang namanya internet. Setiap hari entah bagaimana bentuknya kita selalu terhubung oleh awan-awan dimana orang lain bisa masuk dan melihat informasi yang tersedia. Sebagai ‘bawaan orok’ atau sifat alami manusia, kebutuhan untuk melihat dan ‘dilihat’ pasti dipuaskan oleh yang namanya internet berkedok ‘social media’. Dimana kita bisa berbagi kesenangan/kesedihan kepada teman-teman kita melalui aplikasi facebook, twitter, instagram, blog (seperti sekarang saya lagi curhat … :p ) dengan proses yang sangat cepat a.k.a instan (masak mie instan saja butuh waktu kurang lebih 5 menit, 2 menit sambil nunggu panas smpe anget)

Ingat berita yang sedang hangat kemarin, dimana masyarakat di Tolikara, Papua geger karena dilarang merayakan Hari Raya Idul Fitri?

Saya sebagai seorang muslim, juga merasa ‘panas’ dengan kabar tersebut karena sudah menjadi hak setiap individu masing-masing WNI untuk beragama dan menjalankan kewajibannya. Tapi sementara saya kesampingkan rasa ‘panas’ tadi dengan berpikir dari sudut pandang berbeda dan mencari-cari kemungkinan lain. Toh setelah kabar itu muncul di internet, banyak teman-teman saya share berita tersebut dengan embel-embel menjelekkan pihak lain malah ada yang  ‘mau’ berangkat ke sana untuk membela saudara-nya.

oke cukup intro nya,

lalu apa masalahnya sekarang? bukannya serba cepat itu bagus? efisien? efektif?

tidak semua!!! kajian teori mengemukakan bahwa kefektifan dan keefisienan dibentuk oleh berulang-ulang kali kegiatan yang sama dengan pola yang sama pula sehingga menghasilkan sesuatu yang dinamakan efek positif dan negatif. Dimana efek negatif akan diperbaiki sehingga tidak akan menghalangi suatu kegiatan tersebut untuk berjalan secara sempurna. bla..bla…bla (materi kuliah dulu, lupa apa mata kuliahnya…😀 )

coba pikirkan apakah makanan cepat saji (junk food) itu baik untuk kesehatan? kenyang iya!!! tapi jangka panjangnya?

orang kaya secara mendadak atau instan apakah langsung bisa menerima kenyataan bahwa dia mempunyai kemampuan untuk mengatur hartanya dengan baik?

Back to the topic, bahwa sekarang jaman instan membuat kita berpindah pola pikir secara kebanyakan orang. Dulu orang benar-benar selektif dengan informasi yang diterima. Bagaimana proses masuknya informasi ke dalam telinga kita melalui proses yang sangat panjang, mulai dari mencari kebenaran, sumber informasi, maupun pendapat orang lainnya. Akan tetapi sekarang dengan adanya internet dan sosial media akhirnya proses tersebut tersingkirkan oleh jargon ‘siap cepat dia dapat’. Dimana dogma ‘kecepatan’ menjadi tuhan yang disembah orang-orang yang belum mempunyai integritas dan pengetahuan akan informasi global saat ini. Mungkin orang lupa bahwa ‘cepat dan tepat’ adalah kata yang saling berpasangan agar tidak terjadi kesenjangan informasi.

siang tadi saya membaca salah satu posting-an media di wall facebook saya dan akhirnya saya menarik kesimpulan kalau orang yang bersangkutan ini kurang memikirkan dampak jangka panjang dari perbuatan yang dia lakukan.

11063886-1150572878291466-8224786210047460300-n-55b06c7b349373970512cb2c

lah, memang apakah presiden tidak boleh melihat film di bioskop seperti rakyatnya? apakah memang presiden itu harus bekerja terus selama 24 jam selama seminggu?

Posting bernada sara karena mengandung unsur agama ini akhirnya dihapus oleh pemilik akun selang beberapa jam diposting di salah satu forum berita. Dengan cepat informasi ini menyebar dan meluas sehingga para netizen lain akhirnya angkat suara untuk ‘mengingatkan’ sebelum akunnya ditutup. Bahkan akun sang istri pun (informasinya sih isi dari wall-nya sama-sama kritis dan mengandung SARA) akhirnya ditutup juga. Nah, apakah penutupan akun tadi sudah direncanakan oleh pemiliknya setelah membuat posting-an di atas? tentu tidak.

Tapi yang pasti efeknya sudah pasti jangka panjang, entah itu kehidupan pemilik akun menjadi tidak tenang dengan  bully sesama netizen atau sampai dengan manjalar ke kehidupan asli di dunia nyata.

dan akhirnya semua kembali kepada kita sendiri untuk bisa berpikir cerdas dan cermat untuk keselamatan dan ketenangan diri kita sendiri. Mulutmu harimaumu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s