Kenapa Dengan Malang Kembali 2014?

Ada hal-hal yang mengganjal pikiran saya saat ini setelah mengunjungi festival Malang Kembali 2014 atau orang-orang sering menyebutnya MTD atau Malang Tempo Doeloe. Sebuah suguhan dari warga Malang untuk warga Malang dan luar kota yang ingin menikmati suasana masa lalu yang penuh dengan kenangan. Bukan hanya suasananya, aneka jajanan dan mainan bisa dimasukkan sebagai alternatif kuliner dan hiburan yang sudah hampir tidak pernah kita temui, seperti gulali, permen tebu, dan lain-lainnya

Jika sebelumnya acara MTD dilaksanakan di sepanjang Jalan Besar Ijen, tahun 2014 ini (setelah vakum di tahun 2013) festival Malang Tempo Doeloe kali ini dilaksanakan di sepanjang Jalan Basuki Rahmad sampai dengan Alun-alun Merdeka Malang. Ada beberapa perencanaan yang sebelumnya sudah saya dengar dan baca dari internet mengenai festival yang ditunggu-tunggu masyarakat Malang ini, seperti konsep yang berbeda dengan konsep sebelumnya, hingga rencana untuk menarik ribuan pengunjung

Benar saja, seminggu sebelum hari dong! nya saya mencoba untuk berkeliling daerah Kayutangan dan Alun-alun Merdeka. Di beberapa titik sudah dipasang baliho/banner atau apapun namanya itu untuk menjadi perhatian. Seperti di depan kantor pusat PLN, Kantor BCA, Gedung Bioskop Merdeka, Sarinah Malang dan lain-lain.

Akhirnya hari yang ditunggu telah tiba, tanggal 2 Mei 2014 saya bersama istri berencana untuk menikmati suasana masa lalu yang hampir 1 tahun tidak terasa. Bukan hanya saya saja yang ingin menikmati festival tersebut, ribuan masyarakat Kota Malang juga tumpah ruah di jalanan bersama dengan mobil dan sepeda motor yang sedang melewati pusat festival.

Ekspetasi masyarakat terhadap apa yang dijanjikan panitia ternyata tidak ada separuhnya, bahkan seperempatnya. Kenangan manis sambil menikmati jajanan ala tempo doeloe seakan sirna dengan desakan orang-orang yang ingin berjuang mencari celah untuk berjalan maju, bahkan melawan arus. Saya sendiri terjebak di tengah kerumunan orang, bukan untuk menikmati pertunjukan yang diadakan panitia, tapi untuk berjalan maju mencari ruang kosong. Ditambah lagi dengan kendaraan yang mati kutu karena tidak bisa maju ataupun mundur, bau gas buang dari knalpot yang tajam membuat saya harus hemat nafas.

Selain jalan yang tidak ideal terdapat masalah satu lagi yang membuat saya kecewa berat, yaitu masuknya PKL (pedagang kaki lima) secara bebas dan tidak adanya koordinasi untuk tempat parkir pengunjung. Saya berjalan mulai dari kantor PLN Kayutangan sampai Alun-alun Merdeka sambil mengamati pinggiran jalan yang penuh dengan sepeda motor pengunjung. Ditambah lagi penuh dengan PKL yang jualannya entah berhubungan dengan Tempo Doeloe apa tidak. Pertunjukannya juga seperti tidak maksimal dan kurang greget, mungkin disebabkan oleh kondisi sekitar yang tidak sesuai dengan harapan panitia.

Lalu apa penyebab kegiatan Festival Malang Kembali ini downgrade seperti ini?

Apa persiapannya kurang matang? Apa berhubungan dengan kurangnya dana? atau memang sudah tidak penting lagi untuk mengadakan kegiatan seperti ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s