Segara Anakan - Pulau Sempu

Berpetualang di Pulau Sempu

Pagi itu saya sudah memikirkan apa saja yang akan dibawa nanti. Pakaian ganti, makanan, peralatan masak, senter, dan perlengkapan lainnya. Hari itu juga saya dan Wahyu, teman kerja di salah satu biro perjalanan di Kota Malang ditugaskan untuk mendokumentasikan tempat wisata Sendang Biru dan Hutan Cagar Alam, Pulau Sempu.

Perjalanan dari Kota Malang memakan waktu kira-kira 2-3 jam untuk sampai ke Pantai Sendang Biru, Malang Selatan. Dikarenakan ban dari sepeda yang saya tumpangi bersama Wahyu bocor di tengah perjalanan. Sedangkan 1 sepeda yang dikendarai 2 orang teman kami sudah menunggu terlebih dahulu di pantai. Selain itu kami berhenti dulu di Turen untuk membeli minyak tanah dan air minum untuk persediaan di Segara Anakan, Sempu. Memang, salah satu hal yang penting di sana adalah air untuk minum, karena tidak ada persediaan air tawar di dekat Segara Anakan.

Kami tiba di Sendang Biru pukul 14.00, dan dilanjutkan dengan sholat di langgar terdekat. Setelah itu menuju ke rumah warga terdekat untuk menitipkan sepeda seharga 5000 rupiah. Di sini terdapat beberapa masalah, yaitu kami diminta untuk membawa surat ijin dari kantor pusat perlindungan hutan di Surabaya jika ingin masuk ke dalam Pulau Sempu. Tapi akhirnya, saya menitipkan kamera saya sebagai jaminan bahwa tidak akan macam-macam di dalam Pulau Sempu

Setelah menyebrang dengan perahu, dengan membayar 100rb untuk perahu motor kami berempat menyebrang dari Sendang Biru ke Pulau Sempu. Setelah turun dari kapal kami mulai masuk ke dalam hutan, karena kondisi cuaca mendung dan hujan gerimis sehingga kami khawatir tidak akan sampai Segara Anakan sebelum petang. Biasanya waktu normal yang dibutuhkan untuk mencapai Segara Anakan kurang lebih 90 menit, jika medan yang dilalui dalam kondisi hujan atau tanah basah, bisa menjadi 120 menit atau 2 jam, bahkan lebih.

Saya kebetulan mendapat tugas memikul air mineral ukuran 1,5 liter sebanyak 8 botol di tas ransel belakang. Ditambah dengan peralatan masak, panci dan kawan-kawan. 30 menit pertama saya dan teman-teman sudah hampir mencapai tengah hutan, karena waktu itu si Wahyu melihat Google Earth di handphone-nya. Semakin dalam kami masuk semakin sulit medan yang kami lewati. Saya ingat betul ketika melewati tanah miring hampir 45 derajat dengan kondisi licin. Dengan berpegangan satu tangan pada ranting pohon kami berusaha agar tidak terpeleset jatuh, karena tangan satunya membawa barang bawaan.

Setelah berjalan cukup jauh dan badan mulai terasa capek, kami beristirahat sejenak di atas pohon yang tumbang karena angin kencang. Terlihat akarnya tercabut dari tanah di ujung, padahal diameter pohon mencapai 1 meter lebih.

Kami melanjutkan perjalanan sampai akhirnya mendengar suara ombak menderu menghempas karang, membuat kami semangat melangkah. dan akhirnya yang ditunggu-tunggu pun mulai nampak, yaitu hamparan pantai dan dinding karang yang mengelilinginya.

bersambung di babak kedua

One thought on “Berpetualang di Pulau Sempu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s