Jadi Korban atau Idola?

IC

“halah… pancet ae tayangan tipi Indonesia. tambah suwe tambah koyo’ ta*K!!!”

hahaha… itulah kata-kata yang diucapkan temenku ketika melihat salah satu acara di stasiun televisi. mau tahu namanya? namanya IDOLA CILIK. bukan tidak berasalan dia berkata seperti itu (kata2nya membuat telinga harus bekerja ekstra keras -bahkan sangat keras untuk mereda kelebihan suara… hahaha). mulai dari tampilan sang-Idola, gaya-gaya yang ditampilkan, sampai dengan lagu yang dinyanyikan pun tidak merefleksikan bahwa acara tersebut adalah sebuah acara untuk konsumsi anak2 (kan objeknya anak2…)

bahkan saya sendiri melihat dengan miris plus prihatin kepada pertelevisian Indonesia kini, khusunya yang menangani acara ini karena tidak memperhatikan masalah etika dan kebudayaan Indonesia. walaupun hati sudah gatal, panas, serta ingin mendukung teman saya yang secara frontal mengungkapkan perasaannya (tapi ga pernah di depan cewek.. hahaha) namun saya berusaha untuk tenang dan memikirkan lebih dalam tentang masalah yang satu ini.

beberapa waktu lalu teman saya yang lain di wordpress juga mem-posting soal pencarian bakat anak

apa yang saya pikirkan adalah seperti ini

  • dari segi apa yang tampak, kelihatannya mereka (sebagai anak2) tidak cocok didandani seperti itu. apabila nanti acara itu ditampilkan lagi, coba perhatikan pakaian yang dikenakan! busana tersebut mencerminkan kebudayaan yang berlebihan dalam kehidupan sehari-hari, ditambah lagi yang memakai adalah anak2 di bawah umur (bisa dikatakan seperti itu). apakah hal itu tidak mempengaruhi penonton yang di bawah umur juga? yang saya yakin sekali bila dibandingkan dengan seumuran saya yang sudah bisa berpikir rasional…
  • kemudian dari segi yang bisa didengar, lantunan lagu dewasa yang sering kita dengar dan dinyanyikan oleh orang dewasa pun ikut menjadi senjata utama anak2 tersebut. saya jadi mikir, kok ga ada satu pun yang menyanyikan lagu anak-anak pas jaman saya kecil dulu. bukankah dengan mengatakan kata2 dewasa itu akan membentuk pola yang dewasa juga (karena mereka masih dalam proses berpikir yang pure) dan apabila hal2 yang konsumsinya dewasa masuk terlalu dini pada anak2, bisa jadi dewasa sebelum waktunya… (kalau baik seh gpp, yang nggak baik itu…)

saya sendiri sedang mengira2 bahwa ini ide sang kreator acara atau memang ada pihak yang mencari keuntungan di jaman yang serba sulit ini? memang saat ini kita dituntut untuk kreatif, beda dan pola pikir yang ekstrim. namun ada beberapa aspek yang berhubungan dengan kondisi masyarakat sosial yang harus diperhatikan.

timbul pertanyaan lagi,

  • ini orang2 di masyarakat yang bodoh (karena nggak sedikit yang mendukung anaknya ikutan program acara ini) ataukah
  • produser yang goblok (ups!!! jadi ikutan temen deh) karena ga bisa mikirin nasib bangsa ini. maunya uang mulu…

5 thoughts on “Jadi Korban atau Idola?

  1. ncupndut

    hmmm…
    da benernya si…
    tapi keknya lebih fair kalo ente juga liat dari sisi lainnya…
    gimana mereka yg anak jalanan dpt kesempetan buat perbaikin hidup mereka(ya meskipun kata org secara instan…walopun buat masuk ke berapa besar itu mreka juga berjuang kok..)
    tp siiph boz…
    at least nambah kebuka pikiranku baca blogmu…
    two thumbs up!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s