Princess Garnet

di balik jendela aku melihat dia duduk di teras depan bengkel tekstil sedang bercanda dengan teman-temannya. jam istirahat di kelasku masih belum dimulai, tapi jiwaku sudah keluar dan berada tepat di depannya. kuamati wajahnya yang membuat jantungku berdegup kencang, bibirnya yang merah muda kehalusan dan rambutnya yang sangat indah. sayang, aku hanya bisa melihatnya dari jauh

hari ini sudah lama sekali aku tidak melihat wajahnya lagi. dia yang selalu membuatku memikirkan bagaimana agar aku bisa berbicara dengannya, walaupun sepuluh detik, tidak… sedetik pun aku senang. sebut saja namanya Garnet (Final Fantasi IX) karena poni dan rambutnya hampir sama dengan dia. terakhir kali kami bertemu kurang lebih setahun silam ketika aku bekerja di sekolahku sebagai teknisi komputer, dan ia mengantarkan adiknya untuk daftar di sekolah itu. aku tidak menyangka bahwa ia akan mengingatku bahkan menyapa seseorang yang tidak percaya diri, bahkan untuk menyapa dirinya sekalipun. dia cantik, lembut, entah definisi apa lagi yang bisa kujelaskan ketika melihat wajah dan mendengar suarnya. semuanya terasa begitu hampa dan ringan.

kucoba mengingat-ingat ketika aku menggoreskan pensil 2B ku di kertas gambar A4 dengan penuh kesabaran dan ketelitian. kugambar wajahnya seperti apapun bayangan yang tampak di depan mataku. dan suatu hari aku memberanikan diri untuk berterus terang bahwa aku menyukainya. dan ingin kuhadiahkan jerih payahku kepadanya saat itu. segalanya tampak begitu indah ketika kubayangkan permukaan perasaanku.

namun, keberanian seakan lenyap ketika aku berjalan ke arah seorang yang aku sukai selama ini. langkahku begitu ragu dan berat seakan ingin berbalik arah dan sembunyi dari wajah-wajah yang melihatku. hampir semua teman di kelasku mengetahui bahwa aku menyukainya, tapi tidak punya keberanian untuk mengatakannya. mereka mendukungku.

tapi, tekad ini sudah bulat, apapun yang terjadi aku hanya ingin menyampaikan perasaanku lewat kertas putih polos yang tergambar wajahnya. aku belum pernah menggambar wajah sedetail itu. begitu cantik.

dan hal yang paling kuingat ketika kupindahkan kertas bergambar kepada tangannya adalah senyuman malu yang manis dari dirinya, sambil menunduk menatap sepatu kami. lalu aku hanya bisa pergi secepat mungkin untuk mengatasi perasaanku sendiri. seperti es krim yang leleh karena panas, perasaanku sangat senang tapi cemas, malu, bangga kegirangan. entah sepertinya aku merasa seperti memenangi kejuaraan basket se-malang raya dan mengangkat trofinya.

setelah itu aku lupa yang terjadi… hanya senyuman seper sekian detiklah yang membuatku mengingat begitu lama waktu yang aku lalui.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s