Problematika Kejuruan Kota Malang 2008

salah satunya dapat diliat pada banyaknya siswa yang mendaftar di jurusan TI sekarang ini. sekedar informasi, TI sekarang di bagi ke dalam beberapa konsentrasi (saya menyebutnya demikian), seperti RPL, TKJ (umum dipakai sekolah2 di Malang), Multimedia, dll. Kurikulum dan silabusnya pun berbeda antara satu konsentrasi dengan yang lain.

lalu, apakah semua itu sudah memenuhi standar idealis pelaku pendidikan di atas sana?

menurut saya, kurangnya SDM, pengetahuan, fasilitas, serta sosialisasi tiap konsentrasi dapat membebani kedua belah pihak. jadi tujuan utama SMK dalam membentuk tamatan yang mandiri kurang begitu tercapai, sebabnya ya beberapa hal itu tadi.

salah satu hal yang mungkin sangat mendesak adalah point terakhir yang saya ungkapkan. yaitu sosialisasi. seperti yang kita ketahui bahwa banyaknya pilihan jurusan/konsentrasi di tiap sekolah kerap membingungkan siswa/wali murid dalam menentukan jurusan yang akan mereka pilih. rata-rata mereka hanya memprioritaskan jurusan favorit dari atas ke bawah. tanpa diimbangi dengan pengetahuan luas dan mendetail untuk tiap jurusan.

penjelasan secara mendetail serta cakupan ruang lingkup sebuah jurusan sangat diperlukan siswa/wali murid untuk menentukan langkah awal sebuah sekolah kejuruan. karena dimulai dari hal ini, proses pembentukan karakter dan keahlian seseorang akan dibina dan dikelola sedemikian rupa. sehingga mutu dan kualitas seorang tamatan sudah bisa diprediksi sejak awal.

gambaran secara umum sekolah kejuruan di Malang masih memprioritaskan kuantitas siswa dibandingkan kualitas. banyak sekolah kejuruan yang membuka kelas mandiri (non-reguler) tanpa diimbangi dengan fasilitas, instruktur, dan infrastruktur yang memadai dalam mengembangkan potensi siswa itu sendiri. akibatnya, siswa kurang begitu maksimal khususnya dalam mata pelajaran produktif. meskipun banyak pihak yang menganggap hal ini bisa diatasi, namun faktanya tiap tahun ajaran baru, semakin banyak siswa yang diterima, sedangkan perbandingan instruktur dan kualitas masih jauh di belakang.

hal lain yang saya lihat adalah terlalu mbulet dan birokratisnya sistem pendidikan kita. bagaimana penyusunan kurikulum yang harus memenuhi standar penyusunan kompetensi kejuruan yang seperti itu. apalagi jeda antara penerimaan dan penyusunan sistemnya sama-sama berada pada posisi yang sejajar.

seharusnya kurikulum dan kompetensi sudah dipersiapkan sejak awal sebelum membuka jurusan baru dan sudah matang melalui proses penggodokan. bukannya malah menerima siswa baru menyusun kompetensi…

mungkin di lain sisi ada pandangan tentang “kalau tidak dicoba, ya mana bisa?”

Kita bicara mengenai kualitas generasi penerus, bukan coba-coba!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s