Sistem Pembelajaran dari Behaviouristik ke Konstruktivistik

seperti yang kita tahu sebelumnya bahwa manusia di Indonesia (bahkan sampe saat ini) masih terjangkit sebuah penyakit ‘keseragaman’. hal ini dibuktikan dengan budaya copy&paste yang banyak dilakukan di berbagai aspek kehidupan. ciri2nya mungkin bisa dilihat dan dirasakan bahwa mempunyai pola pikir sentral monoton (tanpa kreatifitas), dan mengakibatkan keseragaman.

nah, kehidupan di Indonesia kebanyakan masih tidak bisa menerima keragaman, dan masih menjunjung tinggi keseragaman, padahal kita udah didoktrin untuk menghapalkan ‘bhineka tunggal ika’. namun entah karena kebanyakan orang indonesia mempunyai otak mahal ato penjajah terdahulu sukses mencuci otak bangsa Indonesia sampai 9 turunan, sampai sekarang keseragaman masih sulit untuk diterima.

saya jadi ingat peribahasa jaman dulu (SD, SMP, mungkin SMK juga) bahwa ada yang mengatakan ‘berakit-rakit kita ke hulu, berenang-renang ke tepian’ ato ‘gantungkan cita2mu setinggi langit’. sebagai kata mutiara mungkin itu adalah cocok. tapi jika kita menghadapi dunia sekarang hanya dengan mutiara tersebut, bisa jadi kita yang akan dianggap sebagai orang jaman pra-modern. trus yang modern itu apa? beberapa waktu lalu saya baru mengerti bahwa sistem modernisasi membuat kita menerima kenyataan dengan akal sehat dan jiwa yang sehat. seperti ‘hidup ini adalah perjuangan’, trus ‘benar-salah saya adalah saya’.

8 Kunci di Kehidupan ala Semrawut

  1. Kejujuran
  2. Kegagalan awal kesuksesan
  3. Bicara dengan niat baik
  4. Pola pikir kekinian
  5. Komitmen
  6. Tanggung jawab
  7. Sikap luwes
  8. Hidup seimbang

baik, sekarang kita bicara tentan sistem pembelajaran di Indonesia (kebanyakan)

jika dikelompokkan sistem pembelajaran behaviouristik adalah yang:

mempunyai pengetahuan yang bisa dibilang objektif, pasti, tetap dan yang itu2 saja
sistem pembelajaran didasarkan atas kapasitas pengetahuan yang diperolah
dan juga caranya seperti ‘hanya’ mentransfer pengetahuan kepada orang yang diajar
diri sendiri difungsikan sebagai alat penjiplak struktur pengetahuan

trus yang konstruktivistik bisa dikatakan seperti ini:

pengetahuan yang didapat selalu berubah, entah itu penyampaian dan temporeritas
pemaknaan atas pengetahuan lebih ditutamakan
didasari oleh hal tersebut, kita akan menggali makna seluas dan sedalam mungkin
Mind berfungsi sebagai alat menginterpretasi sehingga muncul makna yang unik

oleh karena itu muncul perbedaan pada siswa yang sistem pembelajarannya behaviouristik dan tidak,

yang behaviouristik (si A, red) dihadapkan dengan masalah bahwa ia harus mempunyai pemahaman yang sama dengan apa yang diberikan oleh si pengajar, sedangkan yang tidak (sebut saja si B, red) bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih dan berbeda dari yang diajarkan.

si A juga di ajarkan bahwa di dunia ini sudah tersusun rapi, terstruktur secara sistematis, dan pengetahuannya juga tersusun rapi. sedangkan si B dapat memahami bahwa segala sesuatu bersifat temporary, berubah dan tidak tentu. dan manusialah yang memberi makna atas realitas.

mungkin juga si A pada waktu belajar dihadapkan pada aturan2 yang ditentukan lebih dulu dan ketat, dan pembiasaan disiplin adalah sebagai faktor utama. trus si B dihadapkan dengan lingkungan belajar yang bebas karena kebebasan adalah hal yang penting dalam pembelajaran.

behaviouristik juga mempunyai ciri ciri sebagai berikut:

  • Kegagalan atau ketidak-mampuan dalam menambah pengetahuan dikategorikan sebagai KESALAHAN, HARUS DIHUKUM
  • Keberhasilan atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas dipuji atau diberi HADIAH
  • Ketaatan kepada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan Kontrol belajar dipegang oleh sistem di luar diri si-belajar
  • Tujuan pembelajaran menekankan pada penambahan pengetahuan
    ‘Seseorang dikatakan telah belajar apabila mampu mengungkapkan kembali apa yang telah dipelajari’

sedangkan konstruktivistik:

  • Memandang sebuah kegagalan atau keberhasilan, kemampuan atau ketidakmampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda yang perlu DIHARGAI
  • Kebebasan dipandang sebagai penentu keberhasilan Kontrol belajar dipegang oleh si-belajar
  • Tujuan pembelajaran menekankan pada penciptaan pemahaman, yang menuntut aktivitas kreatif-produktif dalam konteks nyata

trus,

Sosok manusia yang bagaimana yang akan dihasilkan oleh pembelajaran yang Behavioristik? trus Konstruktivistik?
Akapah mereka mampu menghadapi tantangan Melinium baru? Kesemrawutan global?

si A mempunyai ketrampilan terisolasi, mengikuti urutan kurikulum ketat, dan segala aktivitas mengacu pada teks atau buku, penekanan kepada hasil, mempunyai respon pasif, menuntuk hanya satu jawaban, dan proses evaluasi adalah sebuah bagian yang terpisah dari pembelajaran.

sedangkan si B mempunyai penggunaan pengetahuan secara bermakna, mengikuti pandangan si-belajar, aktivitas belajar dalam konteks nyata, menekankan pada proses, penyusunan makna secara aktif,menuntut pemecahan ganda, dan menekankan proses evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar

sebuah proposisi yang berkaitan dengan pembelajaran bisa disebutkan di bawah ini:

bahwa belajar adalah mempelajari sesuatu yang baru

  • Dorong munculnya diskusi pengetahuan yang dipelajari
  • Dorong munculnya berpikir divergent, bukan hanya satu jawaban benar
  • Dorong munculnya berbagai jenis luapan pikiran/aktivitas
  • Tekankan pada keterampilan berpikir kritis
  • Gunakan informasi pada situasi baru

kebebasan merupakan unsur penting dalam belajar

  • Sediakan pilihan tugas
  • Sediakan pilihan cara memperlihatkan keberhasilan
  • Sediakan waktu yang cukup memikirkan dan mengerjakan tugas
  • Jangan terlalu banyak menggunakan tes yang telah ditetapkan waktunya
  • Sediakan kesempatan berpikir ulang
  • Libatkan pengalaman konkrit

Strategi belajar yang digunakan menentu-kan proses dan hasil belajarnya

  • Berikan kesempatan untuk menerapkan cara berpikir dan belajar yang paling cocok dengan dirinya
  • Berdayakan melakukan evaluasi diri tentang cara berpikirnya, cara belajar, atau lainnya

Motivasi dan usaha mempengaruhi belajar dan unjuk-kerja

  • Motivasilah dengan tugas-tugas riil dalam kehidupan sehari-hari dan kaitkan tugas dengan pengalaman pribadi
  • Dorong untuk memahami kaitan antara usaha dan hasil

Belajar pada hakekatnya memiliki aspek sosial.
(Kerja kelompok sangat berharga)

  • Beri kesempatan untuk melakukan kerja kelompok
  • Dorong untuk memainkan peran yang bervariasi
  • Perhitungkan proses dan hasil kerja kelompok

sumber: materi Universitas Negeri Malang

8 thoughts on “Sistem Pembelajaran dari Behaviouristik ke Konstruktivistik

  1. ImamS

    Ini ada kaitan juga dengan pola istilah BELAJAR-MENGAJAR, ya terang saja-lah wong-gurunya juga masih belajar untuk mengajar muridnya.

    Seharusnya kan guru itu MENGAJAR-BELAJAR murid2nya untuk bisa memahami ilmu, dan mengembangkan bakatnya…

    Gitu…

    Balas
  2. Tegor

    opo maneh aku, rak mudeng blassss.
    Setahu saya pendidikan di negeri ini tidak sedikit kendala. lebih-lebih pendidikan di SD. di kampung sekalian, deso. kompleks kesulitan.Sistem pembelajaran macam apapun sulit diterapkan.

    Balas
  3. lumansupra Penulis Tulisan

    @mbak rosa
    penekanannya terletak pada sisi manusia itu sendiri, seperti pembelajaran sesuai dengan lingkungan yang bebas dan mendukung. adakalanya sistematika dari pendidikan kita masih mengalami kerancuan sehingga banyak faktor yang tidak dibutuhkan masuk ke dalam bahasan. seperti yang mbak katakan bahwa kita membahas tentang sistem pendidikan secara luas dan umum, bukan dilihat dari sudut pandang tunggal…

    btw, thanks komennya…🙂

    Balas
  4. rosariaindah

    saya sulit memahami apa yang Anda tulis. Setahu saya pendekatan behavioristik itu yang berfokus pada perubahan behaviour/perilaku sebagai bukti adanya pembelajaran. sedangkan constructivism berdasar pada teori dimana manusia belajar dengan sengaja mengkontruksi/menyusun sendiri apa yang ingin ia ketahui, bukan disuapi gurunya. orang-orang yang percaya pada constructivism menilai orang tidak harus berubah perilakunya, tapi secara konsep ia sudah berubah itu sudah cukup. Gimana?

    Balas
  5. nuyul

    cak, oleh ilmu tekan ndi??????
    Q ja yang kmaren kul psikologi komunikasi yang ada materi macam gitu gak se rajin ini nulisnya. asli

    wah sluuuuuut dech….!, otre my pren

    yo opo lek pindah jurusan k psikologi Unair wae, enak lho, ce nya kren2. haaaaaa haaaaa haaaa haaaaa

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s