perfomance

beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan temen cewek saya di kampus. setelah seharian ngurusin persiapan acara Minggu besok, 16 Maret: Schöner Sonntag, kita ngobrol ringan2 aja. ya mulai dari duit beasiswa yang nggak turun2 sampe masalah dengan pacar masing2. hehehe. dasar, kalo lagi gosip udah lupa waktu. ampe maghrib. sampai akhirnya saya denger gini…

‘eh man, u kalo di ramu dikit aja pasti bisa dapet cewek apapun…’ katanya (lha aku tanpa diramu-pun udah ada yang mau…hehehehe).

‘maksude?’ aku pura-pura ga ngerti, padahal udah melayang di atas langit ke-7. sambil menahan kepala yang tiba2 jadi besar sekali… berat juga… 🙂

‘soale kamu itu perlu gimana gitu… dari penampilan u kurang perfect lah, trus bla…bla…bla… (jujur saya nggak mo dengerin terusannya, udah lupa…)

trus saya mikir sampe di rumah, entah kenapa saya nggak terlalu mikirin penampilan yang OK, kek yang dikatakan temenku tadi. selama ini ya biasa-biasa mawon. nggak terlalu berlebihan, kalo ada baju yg habis dicuci ya dipake, kalo ga ada ya yang kemaren (walaupun yg kemaren blom dicuci juga…). sebenarnya pengen jadi orang ganteng, huahahaha… tapi capek ngurusin ini itu, rambut, wajah berminyak, trus minyak wangi..haahhh, ngebayangin aja susah bin ribet, apalagi mengerjakannya.

banyak yang harus saya lakukan daripada memperhatikan tampilan secara belebihan. cukup yang wajar2 saja. toh, juga ada yang lengket…hehehehe

tapi sah2 saja buat siapa saja yang pengen tampil sebaik2nya dengan dandan melebihi wanita… have a nice day

Kreatifitas dan Keterbatasan

‘Kreatifitas timbul dari keterbatasan’

yahhh, kalo nggak salah intinya seperti itu lah. saya pernah baca sebuah tulisan yang membahas tentang kreatifitas dan mengapa kok bisa kreatif.

pernah liat maling beraksi? (entah di tipi ato liat dengan mata kepala sendiri) mereka bisa dikatakan sebagai orang yang kreatif. daripada lewat pintu, mereka lebih memilih jendela untuk masuk. alasannya, karena keterbatasan tempat. kalo mereka lewat pintu, bukan maling, tapi rampok. jadi kreatifitas mereka timbul ketika keterbatasan mengurung mereka, sedangkan mereka harus melakukannya(terlepas dari masalah ekonomi)…
itu maling…

nah, how about us? bisakah kita mengeluarkan kreatifitas, entah dengan keterbatasan atau serba ada?

jawabannya kembali pada kita sendiri. kita bisa memaksakan kreatifitas untuk keluar (dengan catatan hasil yang keluar nggak maksimal). atau kita bisa memanfaatkan situasi (ini neh yang sulit), ketika kita dibatasi oleh keterbatasan, biasanya mental kita turun dengan sendirinya. otak berpikir pesimis terlebih dahulu sebelum kita menyadari bahwa keterbatasan itu bisa dimanfaatin. kita nggak bisa lah, mana mungkin dengan keadaan sekarang bisa seperti itu…

mungkin dengan sedikit pikiran jernih bahwa kita bisa, kita dapat menggunakan kreatifitas. pemikiran bahwa ‘semua pasti’ ada jalan keluarnya dan membuat diri kita lebih optimis memandang segala keterbatasan tersebut yang membatasi diri kita sendiri (halah…mbulet….)

Sabar dan Ikhlas

pagi ini saya berangkat ke kampus dengan niat yang bulat. karena sebelumnya saya sudah subuh-an (biasanya nggak pernah… hehehe). ada dua mata kuliah yang akan saya hadapi hari ini. pertama adalah analog elektronik dan digital elektronik. jadwal kuliah juga sampe sore sekitar jam 4-an. dengan perasaan mantap dan siap untuk menerima materi, saya berangkat.

sesampainya di kampus, temen2 pada kumpul di depan administrasi. belom dapet dosen, ngurusin kelas, dan tetek bengek… setelah dapet info bahwa kelas kita disitu, kita menuju ke sana, dan menunggu kira2 setengah jam. ga ada dosennya.

trus ada pemberitahuan bahwa hari ini kosong. jadwal diganti, de el el… halah… mboh kah… kita itu mahasiswa, napa kok sibuk ngatur jadwal, cari dosen, ngatur kelas, kesana kemari… nggak karuan. napa ga kita sendiri yang jadi petugas administrasinya, ngurusin sendiri jadwalnya. jadi dosennya, ngajar-ngajar sendiri, kasih nilai sendiri, lulus dengan buat sertifikat sendiri…

trus buat apa kita bayar kuliah…  oalah… kok mbulet kuliah neng kene.

I Have a Vision(s).

Terjemahannya dalam Bahasa Indonesia adalah ‘aku punya visi’. Harus punya dan selalu ingat visiku setiap saat. Di samping itu saya harus berusaha untuk mencapainya, tidak peduli tantangan yang akan datang. Selama saya dapat berusaha dan berusaha, serta berdoa kepada Allah SWT, maka saya yakin bahwa saya bisa mencapai tujuan saya. Karena sebuah visi menurut saya (setelah baca buku J) adalah sebuah pandangan pemikiran kepada masa depan. Kita dapat menentukan masa depan kita sendiri dengan menentukan sebuah visi. Tentukanlah sebuah Visi dan berusahalah untuk mencapainya. Tanpa visi kita tidak akan tahu apa yang akan kita lakukan ke depan. Mengikuti alir kehidupan, bagi saya (sebelum membaca buku itu) sangat membosankan, tidak ada tantangan, monoton. Pokoknya nggak keren lah…

‘Seseorang dengan tujuan yang jelas akan membuat kemajuan walaupun melewati jalan yang sulit. Seseorang tanpa tujuan nggak akan membuat kemajuan walaupun berada dalam jalan yang mulus’ kata Thomas Charlyle dalam Habiburrahman El-Shirazy, Ayat-Ayat Cinta, h. 138, Jakarta: Republika, 2004. Dalam buku tersebut.

Saya ingin membuat sesuatu yang lebih panjang dari umur saya. Berguna bagi orang lain dan dapat digunakan. Karena saya ingin nama saya dikenal oleh orang lain, walaupun udah masuk ke urukan tanah yang tiap sebulan sekali di-sambangin dan di doa’in. Pengen buat sebuah sesuatu yang beda. Seperti Nabi Muhammad SAW, namanya paling banyak digunakan di dunia ini, kisah kehidupannya diceritakan oleh banyak orang, menjadi suri tauladan bagi kita semua. Kompleks, seluruh aspek kehidupannya sangat sempurna bagi saya untuk dijadikan contoh. Walaupun belum sekalipun membaca sampai selesai riwayat beliau. Insyaallah akan saya baca.

Dengan sebuah visi, saya akhirnya nggak takut gagal. Karena saya mempunyai harapan dan hal itu membuatku semangat dalam mencapai visi. Apapun yang saya lakukan sekarang adalah untuk meraih visi-visi saya. Semuanya akan terasa berguna, dan mempengaruhi pemikiran saya. Saya senang, dan enjoy dengan tantangan, kepahitan, jalan terjal yang datang.

Sekali lagi visi…visi…visi…!!!

Visiku (sekarang) adalah seorang seniman modern. Hehehe…

How about you?

Buku yang saya baca adalah : ‘Belajar Jadi Orang Hebat’ Karangan M. Rojaya.

I’ll Make Decision

Setelah sekitar 2 semester lebih hidup dalam ketidakpastian antara harus memilih dunia baru yang ada di depan mata dan dunia lama yang ada di belakang…

maka dengan ini saya memutuskan untuk…

memperdalam…

dunia teknik dan dunia seni dalam waktu yang bersamaan! (mohon doa restunya)

Untitled Laugh…

“Well, I have no idea right now. Just putting my fingers on my notebook keyboard. Try to figure it out. Haaaaahhhh….”

Hari ini malem minggu, tanggal 8 maret 2008. Sekarang berada di kampus dan ngenet sendirian di ruangan berukuran 7×4 meter. Ga ada makanan, minuman, cuman ditemani lagi backstreet boys dan linkin park. Sangat membosankan dan …

Tiba tiba teringat akan suatu hal yang membuatku tersenyum sendirian di bekas sekolahan ku dulu. SMK X katakanlah. Di sana terpampang jelas pengumuman lomba Web Design 2008 dengan tema Global Warming yang diselenggarakan oleh salah satu universitas negeri di Malang. Mungkin jika dilihat dari hadiahnya cukup menarik minat dari guru2 yang selalu optimis. Untuk hadiah juara I sekitar 1,5 juta, Juara II mungkin sekitar 1 Juta (soalnya tadi nggak konsen ke hadiahnya… J).

Konsennya kepada tata penulisan bahasa yang disampaikan oleh penyelenggara dan makna yang terkandung dalam pamflet tersebut. Yang membuatku tersenyum adalah kata ‘desain’ ditulis ‘desian’. Dan ada beberapa kalimat yang bagi saya (yang memposisikan diri sebagai orang awam untuk dunia TI) sangat membingungkan dan menimbulkan makna ganda.

Sekedar menulis bahwa yang membuat acara tersebut sudah setingkat perguruan tinggi dan udah di perbanyak sedemikian rupa. Mungkin bagi mereka ‘kesalahan’ kecil itu hanya sebuah ‘kesalahan’ tanpa memperhatikan kesempurnaan… (berat banget ngomongnya….)

Dah ah..itu dulu hari ini… laper + ngantuk…

Fotografi

freeze

bagi saya hasil jepretan sebuah foto adalah seni yang sangat kompleks. berdasarkan imajinasi dari sang pemoto (kok aneh bahasanya…) kita dapat menyampaikan pesan kepada yang melihat foto kita. itulah seninya (sekaligus sulitnya). orang dapat mengartikan karya seni kita sangat berbeda dengan arti sesungguhnya (yang kita artikan sendiri).

jika dibandingkan dengan video yang (misalnya) berdurasi 1 detik (secara default 12 fps — frame per second) kita akan tahu video itu menceritakan seperti apa (hanya satu detik…?). lain halnya dengan sebuah gambar yang ada. dengan menggunakan imajinasi, kita dapat mereka-reka arti sesungguhnya dari gambar tersebut. sekali lagi, itulah seninya.(plus sulitnya…)

seorang fotografer bagi saya seorang seniman yang menggunakan imajinasinya melalui kamera. dari dulu, pengen jadi fotografer… 🙂