Teknik dan Seni

saya suka sekali membandingkan dua konsep dasar ilmu ini. antara kepastian dan penalaran. disamping itu saya juga sedang menjalani dua konsep ilmu tersebut, seperti mempunyai istri dua, yang satu ingin ditemani, sedangkan satunya lagi tuntutan. ya memang tuntutan, dan sebelumnya saya tidak bisa menerima bahwa saya harus menemani satu istri dan istri lainnya. tidak pada waktu bersamaan. kacau… tapi toh, akhirnya diterima juga. melalui beberapa proses yang rumit dan memusingkan…

ok, lepas dari itu semua, dilihat dari penjelasan-versi saya- tentang kedua istri ini, akhirnya saya mengerti bahwa kedua istri tersebut tidak dapat disatukan hanya dengan menyatukan mereka. butuh waktu dan kerja keras serta timing yang tepat untuk menggunakan keduanya. tentunya pada saat saya menggabungkan kedua istri saya dan menggunakan mereka, hasilnya dapat dirasakan sebagai hasil yang sangat fantastis.

penjelasan saya tentang seni dan teknik (didapat ketika pelajaran di kampus, statistika dan probabilita -ketika melamun tepatnya), adalah pada konsep ilmu seni kita seringkali hanya memandang pada hasil akhir, tidak peduli seberapa jauh ataupun dekat, sesulit atau semudah apapun sebuah proses yang kita lakukan dalam menempuh sebuah kegiatan ke-seni-an. saya memikirkan hal ini ketika membaca sebuah koran -kemaren dimana orang membuat karya seni yang membutuhkan lebih dari 3 minggu meskipun orang akan kagum dan selalu ingin tahu proses kegiatan ke-seni-an tersebut, itu tidak lain hanya sebagai rasa ingin tahu manusia kepada hal-hal yang indah, yaitu hasil ke-seni-an tersebut.

sedangkan pada dunia teknik, kampus saya, kehidupan baru saya, selalu membahas mengenai proses, metode, tekniknya untuk mencapai hasil yang dituju. seringkali proses tersebut menjadikan beberapa rumus sederhana menjadi momok yang menakutkan dengan pengembangbiakan simbol-simbol baru yang harus dimengerti dan dicerna oleh otak. serta membahas sesuatu yang sudah dari sananya menjadi benar. sebuah hal yang menarik yang hanya bisa dilihat oleh teman-teman saya ketika mendengarkan kuliah teknik.jika saya menangkap tujuan dari itu semua adalah untuk mengerti sesuatu yang telah ditemukan oleh orang-orang pintar di bidang teknik tersebut. kita disuguhi sesuatu yang sebenarnya belum kita ketahui dan sudah diketahui dan dikuasai oleh orang penemu tersebut. pasti dan berbau eksaktisme.

dunia tidak akan menarik jika semuanya pasti…

akhirnya saya mengerti mengapa selama ini saya lebih menyukai dunia seni daripada teknik. karena dia lebih mengutamakan penalaran dan kemampuan yang sebenarnya bisa didapat tanpa adanya kepastian. tapi, selain itu saya harus berlaku adil terhadap istri ‘teknik’ yang selama ini berada di samping saya selama ini. bukan tidak mungkin saya akan menerima kedua-duanya di sisi saya. meskipun itu mindoni gawe… dan saya sangat bersyukur dapat mempelajari keduanya, karena ketika kita melihat di belakang kita, banyak yang tidak bisa mempunyai istri, walaupun satu…

have a nice day…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s