kuliah…kuliah…lagi…

hari ini (sabtu) saya kuliah lagi. akhirnya sampai ke sekian kalinya, kuliah dengan mengikuti kurikulum baru yang diadopsi dari kampus tetangga (IT*)-yang bisanya hanya nuntut ga jelas dan nggak mo kalah. dengan perubahan yang nggak jelas, akhirnya jadwal kuliah terbengkalai selama 2 minggu. untuk urusan jam kosong seh nggak masalah, tapi nyaur utangnya itu yang bikin pusing. jadwal selama seminggu kacau hanya karena pergantian jadwal sehari… yahh… IT* Jancoookkk!!! (pengen buat kaos trus ada tulisannya gitu, trus tak pake di kampus tetangga…)…

dan hari ini adalah hari paling melelahkan otak kiri. gimana nggak, pagi matematika sampe siang, habis itu analog elektronika sampe sore yang pelajarannya hanya ngutak-ngatik transistor dan resistor, tapi papan sampe dihapus berkali-kali untuk membahas satu rangkaian. duhhhh…

bukan berarti orang nggak kreatif kalo nggak enjoy…

temen2 akhirnya berkolaborasi dengan sesuatu yang ada didekatnya untuk mengusir kebosanan, ngantuk. ada yang maen HP, ntah sms-an ato misscall2. trus aku keluarin camera untuk merekam wajah-wajah ‘butek’ dan ‘aras-arasen’. aneh… selama melakukan dosa tersebut (dengan tidak memperhatikan dosen) saya jadi nggak ngantuk lagi….

angkot, love u…

angkot (angkutan kota) atau di kota Malang biasa disebut dengan mikrolet. selama 5 tahun terakhir ini angkot menjado salah satu kendaraan kesukaan –karena tidak ada alat transportasi lain untuk jalan-jalan.

nah, di dalam angkot, pola pikir saya telah terbentuk. dalam urusan menebak sikap orang lain. memang bukan kebenaran secara mutlak yang akan saya sampaikan, namun tebakan saya bisa dicoba sekedar iseng-iseng saja.

gini…

pas kita di angkot, mau nggak mau kita akan duduk bersebelahan, berhadapan dan saling berdesakan (kalo pas full). nah di situ kita akan mempraktekkan nilai2 pelajaran saling menghormati, tenggang rasa, dan mecem-macem. pertama, saling menghormati adalah sikap ketika kita menghormati orang lain ketika berada di angkot. saya sering melihat orang yang nggak nunjukin sikap hormat sedikitpun kepada orang lain. orang tersebut memang kelihatan lebih ‘ganteng, kaya, apik, ato apalah’ dibandingkan saya atau orang lain. tapi toh juga sama-sama naik angkot… kesombongan tidak pada tempatnya dan  sangat kontras sekali dengan keadaan sebenarnya (di dalam angkot)

trus yang kedua, tenggang rasa. misalnya nggak mau menggeser pantat untuk orang yang baru naik. mungkin posisinya udah ‘pw’ (posisi wenak) yang berada di dekat pintu, sehingga nggak mau menyilahkan orang lain untuk duduk di posisi terdekat. hal inilah yg membuat saya agak terusik, apalagi yang naik udah mbah-mbah dan harus duduk di belakang dengan melewati jalan sesempit itu…

tapi tidak jarang pula saya menemukan orang dengan sikap2 yang berhati mulia. berani berkorban duduk di pintu, atau bersedia menanggung biaya seorang tua. yahhh…berbagai macam hikmah telah saya dapatkan hanya dari sebuah angkot…

Face of Kakashi

lagi iseng2 internetan, ni ketemu wajahnya Kakashi di Naruto. ganteng juga…

naruto-fashion_02

Lihat foto2 kakashi yang lain di sini, dijamin seru!!!

dan semuanya adalah editan dan imajinasi dari si penggambar sendiri… pada versi manga dan orisinal-nya Kakashi nggak pernah nampilin sedikit wajahnya yang ditutupin topeng. mungkin memang dibuat seperti itu…

pengen gambar wajah Kakashi versiku dewe 

Teknik dan Seni

saya suka sekali membandingkan dua konsep dasar ilmu ini. antara kepastian dan penalaran. disamping itu saya juga sedang menjalani dua konsep ilmu tersebut, seperti mempunyai istri dua, yang satu ingin ditemani, sedangkan satunya lagi tuntutan. ya memang tuntutan, dan sebelumnya saya tidak bisa menerima bahwa saya harus menemani satu istri dan istri lainnya. tidak pada waktu bersamaan. kacau… tapi toh, akhirnya diterima juga. melalui beberapa proses yang rumit dan memusingkan…

ok, lepas dari itu semua, dilihat dari penjelasan-versi saya- tentang kedua istri ini, akhirnya saya mengerti bahwa kedua istri tersebut tidak dapat disatukan hanya dengan menyatukan mereka. butuh waktu dan kerja keras serta timing yang tepat untuk menggunakan keduanya. tentunya pada saat saya menggabungkan kedua istri saya dan menggunakan mereka, hasilnya dapat dirasakan sebagai hasil yang sangat fantastis.

Lanjutkan membaca “Teknik dan Seni”

Potograpi Pra Sonntag.

kemaren, pas sibuk2nya nyiapin acara Kampus ‘Schoner Sonntag’ saya sempat bernostalgia dengan om ‘macro’ kamera digital. sore sekitar jam 3 an, hujan rintik2… kameranya merk Sony, bukan DSLR lho, cuman kamera pocket biasa…butuh 3 kali pengambilan tiap gambar + kehujanan… 😦rain_leaves3.jpg

rain_leaves2.jpg

rain_leaves1.jpg

perfomance

beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan temen cewek saya di kampus. setelah seharian ngurusin persiapan acara Minggu besok, 16 Maret: Schöner Sonntag, kita ngobrol ringan2 aja. ya mulai dari duit beasiswa yang nggak turun2 sampe masalah dengan pacar masing2. hehehe. dasar, kalo lagi gosip udah lupa waktu. ampe maghrib. sampai akhirnya saya denger gini…

‘eh man, u kalo di ramu dikit aja pasti bisa dapet cewek apapun…’ katanya (lha aku tanpa diramu-pun udah ada yang mau…hehehehe).

‘maksude?’ aku pura-pura ga ngerti, padahal udah melayang di atas langit ke-7. sambil menahan kepala yang tiba2 jadi besar sekali… berat juga… 🙂

‘soale kamu itu perlu gimana gitu… dari penampilan u kurang perfect lah, trus bla…bla…bla… (jujur saya nggak mo dengerin terusannya, udah lupa…)

trus saya mikir sampe di rumah, entah kenapa saya nggak terlalu mikirin penampilan yang OK, kek yang dikatakan temenku tadi. selama ini ya biasa-biasa mawon. nggak terlalu berlebihan, kalo ada baju yg habis dicuci ya dipake, kalo ga ada ya yang kemaren (walaupun yg kemaren blom dicuci juga…). sebenarnya pengen jadi orang ganteng, huahahaha… tapi capek ngurusin ini itu, rambut, wajah berminyak, trus minyak wangi..haahhh, ngebayangin aja susah bin ribet, apalagi mengerjakannya.

banyak yang harus saya lakukan daripada memperhatikan tampilan secara belebihan. cukup yang wajar2 saja. toh, juga ada yang lengket…hehehehe

tapi sah2 saja buat siapa saja yang pengen tampil sebaik2nya dengan dandan melebihi wanita… have a nice day

Kreatifitas dan Keterbatasan

‘Kreatifitas timbul dari keterbatasan’

yahhh, kalo nggak salah intinya seperti itu lah. saya pernah baca sebuah tulisan yang membahas tentang kreatifitas dan mengapa kok bisa kreatif.

pernah liat maling beraksi? (entah di tipi ato liat dengan mata kepala sendiri) mereka bisa dikatakan sebagai orang yang kreatif. daripada lewat pintu, mereka lebih memilih jendela untuk masuk. alasannya, karena keterbatasan tempat. kalo mereka lewat pintu, bukan maling, tapi rampok. jadi kreatifitas mereka timbul ketika keterbatasan mengurung mereka, sedangkan mereka harus melakukannya(terlepas dari masalah ekonomi)…
itu maling…

nah, how about us? bisakah kita mengeluarkan kreatifitas, entah dengan keterbatasan atau serba ada?

jawabannya kembali pada kita sendiri. kita bisa memaksakan kreatifitas untuk keluar (dengan catatan hasil yang keluar nggak maksimal). atau kita bisa memanfaatkan situasi (ini neh yang sulit), ketika kita dibatasi oleh keterbatasan, biasanya mental kita turun dengan sendirinya. otak berpikir pesimis terlebih dahulu sebelum kita menyadari bahwa keterbatasan itu bisa dimanfaatin. kita nggak bisa lah, mana mungkin dengan keadaan sekarang bisa seperti itu…

mungkin dengan sedikit pikiran jernih bahwa kita bisa, kita dapat menggunakan kreatifitas. pemikiran bahwa ‘semua pasti’ ada jalan keluarnya dan membuat diri kita lebih optimis memandang segala keterbatasan tersebut yang membatasi diri kita sendiri (halah…mbulet….)

Sabar dan Ikhlas

pagi ini saya berangkat ke kampus dengan niat yang bulat. karena sebelumnya saya sudah subuh-an (biasanya nggak pernah… hehehe). ada dua mata kuliah yang akan saya hadapi hari ini. pertama adalah analog elektronik dan digital elektronik. jadwal kuliah juga sampe sore sekitar jam 4-an. dengan perasaan mantap dan siap untuk menerima materi, saya berangkat.

sesampainya di kampus, temen2 pada kumpul di depan administrasi. belom dapet dosen, ngurusin kelas, dan tetek bengek… setelah dapet info bahwa kelas kita disitu, kita menuju ke sana, dan menunggu kira2 setengah jam. ga ada dosennya.

trus ada pemberitahuan bahwa hari ini kosong. jadwal diganti, de el el… halah… mboh kah… kita itu mahasiswa, napa kok sibuk ngatur jadwal, cari dosen, ngatur kelas, kesana kemari… nggak karuan. napa ga kita sendiri yang jadi petugas administrasinya, ngurusin sendiri jadwalnya. jadi dosennya, ngajar-ngajar sendiri, kasih nilai sendiri, lulus dengan buat sertifikat sendiri…

trus buat apa kita bayar kuliah…  oalah… kok mbulet kuliah neng kene.