Sapa pengen dihormati?

5 05 2008

Hari senin setelah upacara membosankan di skull adalah hari yang paling melelahkan, karena ada pelajaran PPKn (pendidikan kewarganegaraan… atau apalah…). gurunya lumayan enak, jauh sebelum sekolahku terkontaminasi oleh Standar Internasional. Pelajarannya selalu berkutat masalah pertanyaan hakiki tentang kondisi kemanusiaan, teori 100%, tanpa praktek. Hari itu kami membahas Bab III: yang intinya Saling Menghormati.

‘Sapa yang ingin dihormati?’ entah kenapa pertanyaan membuatku tersentak dan melihat sekeliling kelas. Melihat teman2ku yang dengan semangat mengacungkan tangan setinggi-tingginya, walaupun ada beberapa yang aras-arasen mengangkat tangannya, entah ga yakin ato emang bener2 males jawab pertanyaan. Tapi intinya semuanya akhirnya mengacungkan tangan, hanya satu yang dengan mantap meletakkan tangannya di atas buku tulis bergambarkan hello kitty sambil memainkan pulpen. Itu aku…

‘lho, lukman nggak ingin dihormati?’ tanya guruku sambil senyum sok ramah

‘nggg… ga pak. Ada yang lebih baik daripada kata hormat’ kataku sambil memperbaiki posisi duduk, agar ga keliatan grogi. ‘setidaknya menurut pandangan saya’

‘kalau boleh tahu, apa itu?’

‘harga, pak’ jawabku sambil menutup pulpen. Kek orang dengan keyakinan teori 100% dan didukung fakta yang jelas. Tapi aku sendiri cuman berbekal kata harga dan hormat yang kulihat di kamus Bahasa Indonesia yang kubeli di toko buku bekas di Wilis.

‘karena kehormatan didapat dengan beberapa cara, salah duanya adalah dengan ketakutan dan ketakjuban, dan saya nggak ingin dihormati karena ketakutan orang terhadap saya.’ Jelasku sambil berdiri. Karena memang aku diajari untuk menghormati orang yang mendengarkanku, dan aku ingin mereka fokus kepada perkataanku. ‘karena bukan itulah inti dari kehormatan…’

‘ketika kita dihargai oleh orang lain, mereka secara tidak langsung telah menghormati, malah kemungkinan dengan rasa takjub. Secara ngga langsung ketika kita dihargai kita telah dihormati apa adanya, tanpa ada rasa takut seperti yang saya katakan tadi.’jelasku tadi sambil memandangi teman2ku yang tadi diam melihatku bicara.

‘jadi kamu berpendapat bahwa kehormatan itu masih kalah dengan harga’ tanya guruku dengan nada pelan, tapi aku tahu bahwa beliau memancing lebih dalam teoriku.

‘begini pak, semuanya tergantung dari mana anda memandang, dari mana konteks yang dibahas, karena bahasa mempunyai lebih banyak dimensi’ jelasku kek ahli bahasa. ‘saya hanya menjelaskan dari sudut pandang saya tentang darimana kehormatan itu dicapai’.

‘ohhh, iya…iya…terus!’ beliau manggut-manggut.

‘saya hanya ingin dihargai atas segala sesuatu yang telah saya lakukan terhadap mereka dan diri saya sendiri. Bukan seperti orang terhormat yang itu’ aku sendiri sulit untuk mencari kata-kata yang pas sehingga nggak menyinggung siapa saja yang merasa seperti itu. ‘jadi sah-sah saja kalau orang lain mau menyangga pendapat saya, toh ini kan pelajaran yang berasaskan demokrasi’

‘wahh… lukman, kamu mendadak pinter gini makan apa tadi pagi?’ tanya guruku sambil tersenyum puas. Mungkin karena salah satu muridnya ada yang pinter ngomong…

‘belum makan pak’


Tindakan

Information

5 tanggapan

20 05 2008
lumansupra

@nuyul
mangkane lek mangan nang pak man wae.. tapi saiki kalo smk digusur… :(

@cupit
hah… ga boleh, itu kebiasaan buruk. kasihan otaknya…

19 05 2008
Cupit

Baguuus…!!! Q klo pg mo g sarapan ah… biar pinter ngmung, kya kmu… ^_^

15 05 2008
nuyul

wah, keren. kalo gurumu tanya makan apa u bisa jadi ky gitu, q mo tanya, malemnya sebelum u ngoming ini u ngipi apa sih?? hayoo ngipi apa? ngaku aja.

but, yang u bilang bener banget. Kalo Q boleh bilang lebih kasar lagi, orang menghormati orang lain kebanyakan karena ada maunya..! Jadi penghormatan kepada orang lain bukan atas dasar ketulusan dan keikhlasa. Namun tak lebih dari sebuah ungkapan ABS (asal boz seneng)

9 05 2008
lumansupra

@basoke08
amiinnnn…..
hehe…

7 05 2008
basoke08

ha…ha…. :) durung mangan men. jo kuatir wong bien akeh sing sakti perkoro pinter tirakat. semoga tirakatnya membawa hasil dan menjadikan kepinteran, kesopanan, dan kedewasaan semakin bertambah.’tirakat amsli po tirakat kepekso’ hee…hee just kidding.

Tinggalkan komentar